Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan acara Pidato Pengukuhan Profesor bagi Prof. Dr. Subhan Afifi, S.Sos., M.Si. dan Prof. Ir. Sholeh Ma’mun, S.T., M.T., Ph.D.  Acara ini berlangsung di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII dan dihadiri oleh Senat Universitas, jajaran Pimpinan Universitas dan Fakultas, Dosen, Mahasiswa serta para tamu undangan dari berbagai institusi pada Kamis, 20 Safar 1447 H/14 Agustus 2025 M.

Dalam pidato pengukuhannya Prof. Dr. Subhan Afifi, S.Sos., M.Si. yang dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang ilmu Komunikasi Publik, menyampaikan kajian yang berjudul “Komunikasi Publik Bidang Kesehatan: Kajian Empiris dan Arah Strategis di Era Digital”. Dalam paparannya, ia menyoroti fenomena ketidakpekaan pemegang otoritas terhadap perasaan dan konteks sosial  terlebih saat pandemi Covid-19 yang menandakan kurang perhatiannya pemegang otoritas terhadap komunikasi publik bidang kesehatan.

“Komunikasi publik bidang kesehatan adalah salah satu pilar vital dalam strategi komunikasi publik pemerintah, yang tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk perilaku, meningkatkan kesadaran kolektif, dan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kesehatan bersama,”ungkapnya.

 Lebih lanjut, Prof. Subhan menambahkan penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami kompleksitas isu kesehatan dari berbagai sudut pandang. Lebih jauh, perlu dibentuk Pusat Studi Komunikasi Kesehatan (Center for Health Communication) yang berfungsi sebagai pusat riset, pelatihan, dan advokasi.

Sementara itu Prof. Ir. Sholeh Ma’mun, S.T., M.T., Ph.D.  yang dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Rekayasa Reaksi Kimia Heterogen,  menyampaikan kajian yang berjudul “Teknologi Tangkap-Guna-Simpan Karbon: Pilar Strategis Menuju Indonesia Netral Karbon”. Dalam penelitiannya, ia menyampaikan keresahannya terhadap triple crisis yang dihadapi oleh dunia saat ini, hingga pada tahun 2023 menjadi salah satu tahun terpanas sepanjang sejarah.

“Meskipun memiliki peran penting sebagai paru-paru dunia, Indonesia juga tercatat sebagai penyumbang emisi CO2 terbesar ke-7 di dunia, terutama dari penggunaan energi fosil, aktivitas industri, dan deforestasi. Untuk itu, Indonesia menargetkan Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, atau bahkan lebih cepat, selaras dengan komitmen global dalam menghadapi krisis iklim,” ungkapnya.

Salah satu senjata andalan menuju NZE adalah teknologi Tangkap-Guna-Simpan Karbon (Carbon Capture, Utilization, and Storage – CCUS), teknologi yang menangkap CO2 dari industri atau pembangkit listrik. Memanfaatkannya kembali untuk Enhanced Oil Recovery (EOR) dan pembuatan produk bernilai seperti bahan bakar, pupuk, pemadam api, minuman bersoda, dan beton ramah lingkungan, atau menyimpannya permanen di bawah tanah. Setiap upaya menurunkan emisi karbon sejatinya adalah bentuk ibadah sosial, sebuah ikhtiar kolektif untuk melindungi bumi, demi keberlangsungan hidup generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” jelasnya.

Acara pengukuhan ini menjadi momentum dalam dunia akademik UII untuk mencetak para pemikir dan akademisi yang dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia dan institusi pada khususnya. (Humas)

Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII (PYBW UII) menyelenggarakan diskusi Pengelolaan Aset pada Jum’at, 21 Safar 1447 H/15 Agustus 2025 M bertempat di Ruang Sidang 1 YBW UII di Jl. Cik Di Tiro No 1 Terban Gondokusuman Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh Jajaran Pengurus, Kepala Lembaga Audit, Kepala Biro, Kepala Divisi dan tamu undangan lainnya.

Kegiatan ini diadakan untuk mengetahui lebih dalam mengenai pengetahuan tentang pengelolaan aset. Materi diskusi disampaikan oleh H. Sunar Dwiantoro, S.E., MBA., CHRP., CMA. dengan tema Pengelolaan Aset. Adapun topik yang dibahas dalam diskusi ini mengenai:

  • Konsep utama pengelolaan aset
  • Jenis aset
  • Tahapan pengelolaan aset
  • Rencana pemanfaatan aset
  • Pelaksanaan pemanfatan aset

Dalam kegiatan ini narasumber memberikan materi secara jelas dan padat serta membagikan pengalamannya dalam pengelolaan aset. Selain pemaparan materi, narasumber juga mengajak peserta diskusi untuk aktif dalam sesi tanya jawab.

Drs. Arief Bachtiar, MSA., Ak. selaku Bendahara Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII menyampaikan “diskusi ini bertujuan untuk memberikan pengalaman terkait pengelolaan aset. Karena yang berjalan selama ini di yayasan, ada beberapa aset yang tidak kita ketahui bahwa itu adalah aset milik yayasan, ini merupakan satu hal yang harus kita benahi. Saya harap dengan materi yang telah disampaikan dapat memberikan masukan dan menjadi tambahan wawasan bagi yayasan dalam mengelola aset yang dimiliki,”ungkapnya.

Dengan adanya diskusi ini, diharapkan ke depannya pengelolaan aset di yayasan dapat semakin baik dan optimal sehingga memberikan kemajuan bagi institusi. (Humas)

Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan acara Penyerahan Surat Keputusan (SK) Kenaikan Jabatan Akademik Profesor kepada Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., M.T. pada Selasa, 18 Safar 1447 H/12 Agustus 2025 M bertempat di Ruang Gedung Kuliah Umum (GKU) UII dan dihadiri oleh berbagai kalangan dalam lingkungan akademik UII, Ketua Pengembangan Pendidikan Yayasan Badan Wakaf UII (YBW UII) serta Kepala LLDikti Wilayah V.

Dr. Sri Kusumadewi menerima Surat Keputusan Kenaikan Jabatan Akademik Profesor dalam bidang Sistem Pendukung Keputusan Klinis. Dengan bertambahnya Dr. Sri Kusumadewi, UII kini memiliki sejumlah 56 Profesor dan saat ini 50 diantaranya masih aktif memberikan kontribusi di berbagai bidang keilmuan.

Rektor UII Fathul Wahid dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat dan rasa syukur atas bertambahnya Guru Besar di UII. Kini, UII masih mempunyai 295 doktor. Sebanyak 123 di antaranya sudah menduduki jabatan akademik Lektor Kepala. Mereka semua adalah para calon profesor. Semoga banyak di antaranya yang menduduki jabatan profesor dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Selain itu Rektor juga mengungkapkan ada banyak salah kaprah soal dalam memposisikan data terkait pengambilan keputusan yang perlu kita pahami. Kita perlu menambah literasi data kita. Sebagai warga kampus, apalagi akademisi, pemahaman seperti ini penting, supaya kita tidak latah dan dapat terlibat dalam proses edukasi publik. Dalam mengambil keputusan, data dapat memainkan peran yang berbeda-beda, tergantung bagaimana kita menempatkannya. Paling tidak, terdapat tiga pendekatan utama yang sering digunakan: data-driven, data-informed, dan data-inspired.

Karenanya, jangan sampai kita suka berhalusinasi, bahwa dunia akan semakin indah, jika semua pengambilan keputusan ditentukan sepenuhnya oleh data dan algoritma tanpa campur tangan kita. Bisa jadi, dunia justru menjadi mengerikan, karena manusia direnggut kemerdekaannya, dan diperlakukan tak beda dengan onderdil mesin, yang mengikuti algoritma desainernya.

Prof. Drs. Allwar, M.Sc., Ph.D. Ketua Bidang Pengembangan Pendidikan PYBW UII dalam sambutannya mewakili Ketua Umum PYBW UII menyampaikan “Perjalanan panjang untuk meraih gelar profesor bukanlah rintangan atau beban yang harus dihindari, melainkan sebuah tantangan mulia yang perlu dihadapi guna mewujudkan karier akademik yang bermakna – baik secara personal, institusional, maupun sosial. Sebagai puncak keilmuan, profesor berperan sebagai motor penggerak dalam membina dosen muda dalam melaksanakan catur dharma UII (pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan dakwah), pengembangan riset strategis multidisiplin berbagai bidang ilmu dan memperkuat jaringan kolaborasi nasional dan internasional untuk memperluas dampak dari ilmu pengetahuan”, ungkapnya.

Acara ini merupakan komitmen UII dalam meningkatkan kualitas akademik serta mendorong inovasi dan kolaborasi di lingkungan kampus dan nasional. Dengan adanya penyerahan Surat Keputusan Kenaikan Jabatan Akademik Profesor ini, UII berharap agar Dr. Sri Kusumadewi dapat memotivasi para akademisi untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. (Humas)

Lembaga Wakaf Uang Unisia (LWU Unisia) Yayasan Badan Wakaf UII selenggarakan Talk Show dan Gerakan UII Berwakaf Uang dengan tema “Waqf Goes to Campus: Inovasi Wakaf Uang Perguruan Tinggi di Era Digital”. Acara sekaligus Launching Gerakan UII Berwakaf Uang dikemas sebagai agenda untuk mengenal dekat wakaf uang sebagai dana abadi (endowment fund) bagi perguruan tinggi. Talkshow hadirkan narasumber Dr. H. Tatang Astarudin, S.Ag., S.H., M.Si., Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), di Ruang Teatrikal lantai II Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta, Selasa, 11 Safar 1447/5 Agustus 2025.

Acara dibuka oleh Ketua Pemberdayaan Masyarakat Pengurus YBW UII, Drs. Aden Wijdan Syarif Zaidan, M.Si, sekaligus memberikan sambutan.

 “Dengan gerakan wakaf uang ini, maka penghimpunan dan pengembangan wakaf uang, serta pentasyarufan imbal hasil wakaf uang bisa semakin membesar di UII, seiring dengan kebijakan di perguruan tinggi terkait dengan dana abadi,” katanya.

Drs. Aden juga jelaskan bahwa cita-cita Yayasan Badan Wakaf UII adalah semakin menggerakkan stakeholder UII dan masyarakat dalam rangka berwakaf untuk kepentingan umat, dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari negara dalam memberikan kontribusi bagi kemaslahatan, sebagaimana lirik pada lagu Mars Lembaga Wakaf Uang Unisia.

Selepas sambutan, dilanjutkan pemaparan dari Dr. H. Tatang Astarudin, S.Ag., S.H., M.Si., Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI).

“Wakaf adalah pilar peradaban, alat baca peradaban, dan penjaga peradaban, sehingga wakaf itu kebutuhan, bukan sebagai ritual, karena yang butuh wakaf itu kita,” katanya.

Tambahnya, berdasar perhitungan BWI yang mengidentifikasi hanya dengan 17 cluster, menunjukkan bahwa potensi wakaf begitu besar, yaitu Rp 181 triliun. Namun wakaf uang yang terkumpul baru mencapai Rp 3,2 triliun. Beliau menambahkan, dimensi wakaf sangat menyentuh kemanusian dan sosial, terlebih di era individualis ini, dimana ‘i see humans but no humanity’. Menurutnya kesuksesan itu dilihat dari semangat berbagi, bukan semata-mata mencari sesuatu, sehingga menjadi penting bagi perguruan tinggi menanamkan kesadaran kepada mahasiswa dan alumni UII agar mempunyai spontanitas berwakaf, membangun wakaf sebagai lifestyle, dan menjadi militansi wakif.

Gerakan UII Berwakaf Uang didukung oleh Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni UII.

”Saya sangat setuju bahwa wakaf secara teologis dan regulasi, sudah selesai, persoalannya sekarang tinggal gerakan, sehingga legasi-legasi perlu kita bangun,” katanya.

Dr. Drs. Rohidin juga memberikan kepercayaan kepada LWU UII untuk membuat gerakan nyata sekaligus menghimbau komunitas dosen UII dan alumni untuk berwakaf uang. LWU Unisia memiliki 3 program penghimpunan, yaitu Wakaf Uang Permanen (WUP), Wakaf Uang Temporer (WUT), dan Wakaf Melalui Uang (WMU), dengan jumlah keseluruhan wakaf uang terhimpun saat ini senilai Rp 5.145.901.216,-

Dalam kegiatan ini juga diserahkan secara simbolis Sertifikat Wakaf Uang kepada wakif lembaga di lingkungan UII. Pertama, wakif dari Universitas Islam Indonesia senilai Rp 248.600.000,- sebagai Wakaf Uang Permanen yang diterima oleh Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag., Wakil Rektor UII Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni UII (Bidang KKA UII). Kedua, wakif dari Fakultas Hukum senilai Rp 3.000.000.000,- sebagai Wakaf Uang Temporer, dan senilai Rp 77.003.067,- sebagai Wakaf Uang Permanen yang diterima oleh Drs. Agus Triyanta, M.A., M.H., Ph.D., Wakil Dekan Bidang KKA FH UII. Ketiga, wakif dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika senilai Rp 1.000.000.000,- sebagai Wakaf Uang Temporer yang diterima oleh Drs. Achmad Tohirin, MA., Ph.D., Wakil Dekan Bidang KKA FBE UII.

Puncak acara Launching Gerakan UII Berwakaf Uang ditandai dengan pemukulan gong oleh Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag. didampingi oleh Pengurus YBW UII, Dewan Pengawas LWU Unisia, Ketua LWU Unisia, Pimpinan DPPAI, dan BWI.

Launching Gerakan UII Berwakaf Uang ini menandai dimulainya Gerakan Wakaf Uang di lingkungan UII, dengan harapan UII menjadi episentrum gerakan perwakafan di Yogyakarta. (Humas)

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar acara Jelajah Kampus UII pada Ahad, 2 Safar 1447 H/27 Juli 2025 M di Auditorium Prof. KH. Abdulkahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII,  yang merupakan puncak Milad ke 82 UII dengan mengusung tema “UII Mengerti Bumi”. Acara jelajah kampus UII ini diikuti oleh seluruh sivitas akademika UII, tenaga kependidikan, purna tugas, Jajaran Pimpinan Universitas dan Yayasan Badan Wakaf UII serta mitra dari Universitas Islam Indonesia.

Ketua Panitia Milad ke-82 UII, Ir. Fitri Nugraheni, S.T., M.T., Ph.D., IPM. , menyampaikan laporan kegiatan penyelenggaran Milad ke-82 UII. “Sesuai dengan tema yang diusung dalam Milad tahun ini, kami berharap menjadi momentum mewujudkan komitmen UII dalam keberlanjutan lingkungan hidup. Ir. Fitri Nugraheni juga menyampaikan kegiatan Jelajah Kampus UII merupakan refleksi dari komitmen tersebut,” ungkapnya.

Acara ini diawali dengan kegiatan senam bersama yang diikuti oleh seluruh peserta Jelajah Kampus. Kemudian dilanjutkan dengan pelepasan burung perkutut oleh Jajaran Pimpinan Universitas yang merupakan pembukaan secara simbolis acara Jelajah Kampus UII. Burung Perkutut merupakan burung endemik yang sesuai dengan habitat serta keragaman flora yang ada di UII, beberapa flora di UII merupakan rumah bagi burung tersebut. Setelah itu Rektor UII secara resmi mengibarkan bendera start sebagai penanda dimulainya Jelajah Kampus UII.

Rute Jelajah Kampus UII kali ini mengelilingi area kampus, di mana para peserta disuguhi pemandangan alam yang sejuk di sekitar kampus sehingga memperkuat pesan utama dari acara Milad UII yaitu “UII Mengerti Bumi”. Selama acara berlangsung, peserta dihibur dengan penampilan dari band-band sivitas akademika UII yang membuat acara Jelajah Kampus semakin meriah dan panitia juga menyiapkan sebanyak 570 hadiah yang diundi bagi peserta Jelajah Kampus.

Sesuai dengan tema “UII Mengerti Bumi”, kegiatan Jelajah Kampus ini diharapkan tidak hanya sebagai bentuk perayaan Milad UII saja tetapi sebagai momentum untuk menjaga bumi sebagai warisan bagi generasi penerus di masa yang akan datang. (Humas)